TANGERANG – Komando Resor Militer (Korem) 052/Wijayakrama menggelar rangkaian peringatan Hari Bakti Taruna untuk mengenang peristiwa bersejarah Pertempuran Lengkong.
Kegiatan yang dipusatkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna, Kota Tangerang, Minggu (25/1/2026) ini diisi dengan ziarah kehormatan dan aksi kemanusiaan.
Komandan Korem (Danrem) 052/Wkr, Brigjen TNI Faizal Rizal, S.IP., memimpin langsung jalannya upacara. Acara diawali dengan penghormatan khidmat kepada arwah pahlawan, peletakan karangan bunga di monumen utama, dan prosesi tabur bunga di pusara para prajurit yang gugur dalam tragedi 25 Januari 1946 tersebut.
Sinergi dan Kepedulian SosialHadir dalam kegiatan tersebut jajaran pejabat penting, di antaranya Gubernur Banten, pengurus Yayasan 25 Januari 1946, keluarga ahli waris pahlawan, serta unsur pimpinan Dandim di wilayah jajaran Korem 052/Wkr.
Tak hanya sekadar seremoni, Korem 052/Wkr juga menyelenggarakan bakti sosial di halaman Museum TMP Taruna Daan Mogot. Bantuan berupa paket sembako disalurkan kepada para Warakawuri (janda prajurit) dan 200 warga kurang mampu sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat sekitar.
Refleksi Sejarah di Tugu Lengkong Rangkaian peringatan ditutup dengan kunjungan ke Tugu Lengkong di kawasan Serpong. Lokasi ini merupakan tempat terjadinya kontak senjata antara Taruna Akademi Militer Tangerang dengan tentara Jepang 80 tahun silam.
Danrem 052/Wkr menegaskan bahwa nilai-nilai pengorbanan Mayor Daan Mogot beserta para taruna harus tetap menjadi kompas moral bagi prajurit masa kini.
“Sebagai penerus para senior pahlawan Peristiwa Lengkong, kita harus mengambil nilai keikhlasan dan semangat juang mereka. Korem 052/Wijayakrama sebagai wilayah terjadinya peristiwa bersejarah ini memiliki kewajiban moral untuk terus mengenang dan menghormati jasa para pejuang dan pahlawan,” tegas Brigjen TNI Faizal Rizal.
Sekilas Peristiwa LengkongTragedi Lengkong bermula saat Mayor Daan Mogot memimpin misi pelucutan senjata tentara Jepang secara damai guna mencegah penguasaan oleh pihak Belanda. Namun, situasi berubah mencekam setelah terdengar letusan senjata misterius yang memicu pertempuran tidak seimbang.
Insiden berdarah tersebut gugur 34 taruna dan 3 perwira terbaik bangsa, termasuk Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Sejarah mencatat pengorbanan ini sebagai Hari Bakti Taruna, sebuah momentum tahunan untuk memupuk patriotisme dan pengabdian tanpa pamrih bagi generasi penerus Negara Kesatuan Republik Indonesia.(bul)
